Friday, April 13, 2012

Rumah Betawi (Propinsi DKI Jakarta)




Meskipun Jakarta adalah Kota Megapolitan dan merupakan Ibu Kota Negara Indonesia,beberapa masyarakat adat di sana masih mempertahankan bentuk rumah adat mereka dengan Ciri khas dari rumah Betawi adalah dalam teknik penyambungan,yaitu "tiang guru" dengan "penglan" selalu diperkuat dengan "pen"  (semacam pasak yang terbuat dari bambu) sebagai pengganti paku.Bila rumah itu akan dibongkar,pasak-pasak itu tinggal dicopot saja untuk kemudian dipasang kembali di tempat yang baru.



Pembagian Ruangan Rumah ini untuk Keluarga yang mampu biasanya terbagi menjadi tiga (3) bagian yaitu :

a. Bangunan Inti :
  Bangunan inti ini untuk tempat tidur tuan rumah dan anak gadis,kamar - kamarnya berseberangan.Pada umumnya bangunan inti rumah tradisional Betawi tanpa kolong memiliki serambi depan yang terbuka yang disebut "langkan". Bila tidak berkolong, di serambi itu biasa diletakkan balai-balai. Meskipun depannya terbuka sama sekali, di kiri-kanannya biasanya terdapat jendela tanpa daun. Seringkali pula bentuk atas jendela itu berbentuk lengkung seperti bentuk kubah masjid. Rumah tanpa kolong ini biasanya berlantai dari tanah, tembok, ubin dari batu pipih atau semen.Sementara di bagian kiri dan kanan bangunan inti ada jendela berjeruji yang menghadap ke paseban. Fungsinya untuk memasukkan cahaya ke ruang dalam. Ia juga berfungsi sebagai tempat pertemuan gadis Betawi dengan kekasihnya dan kunjungan sang pacar biasa disebut "ngelancong." Jendela itu sering pula disebut "jendela intip" karena di masa lalu para anak gadis Betawi yang belum terlibat hubungan percintaan yang intim hanya bisa mengintip dari balik jendela itu.

b. Paseban :
    Paseban terletak di depan bangunan inti berupa bangunan tanpa dinding sebagai sambungan dari langkan. Atapnya disambungkan dengan langkan. Fungsinya,antara lain sebagai tempat menerima tamu, tempat duduk-duduk keluarga, tempat tidur anak laki-laki, juga untuk menyimpan padi sebelum dimasukukan ke dalam lumbung.

c. Dapur :
    Dapur terletak di belakang dan atapnya menempel dengan bagian belakang bangunan ini yang disambungkan dengan talang seng. Fungsinya untuk memasak dan kegiatan domestik lainnya. Berarti, rumah seperti ini memiliki tiga wuwungan.

   Berdasarkan bentuk dan struktur atapnya, rumah tradisional Betawi dibagi ke dalam tiga jenis:

a. Potongan Joglo (Limasan)

     Umumnya potongan ini berbentuk bujur sangkar. Dari seluruh bentuk bujur sangkar itu, bagian yang sebenarnya merupakan potongan joglo adalah bagian dari empat persegi panjang yang garis panjangnya terdapat pada kanan-kiri ruang depan. Atap bagian depan merupakan terusan dari atap joglo yang ada. Bagian utama bangunan beratap potongan joglo dengan bagian depan yang atapnya merupakan sambungan dari bagian utama itulah yang menimbulkan denah berbentuk bujur sangkar.Potongan joglo merupakan bentuk adaptasi dari rumah tradisional Jawa.
Perbedaannya adalah pada potongan joglo rumah tradisional Jawa, tiang-tiang utama penopang struktur atapnya merupakan unsur yang mengarahkan pembagian ruang pada denah. Sedang pada potongan joglo Betawi hal itu tidak nyata. Di samping itu struktur atap joglo tradisi Jawa disusun oleh sistem temu gelang atau payung, joglo Betawi disusun oleh kuda-kuda. Rumah potongan joglo Betawi pada umumnya tidak dilengkapi dengan batang-batang diagonal seperti ditemukan pada sistem kuda-kuda Barat yang diperkenalkan oleh orang Belanda.

b. Potongan Bapang atau Kebaya
       Atap rumah potongan bapang atau kebaya adalah berbentuk pelana. Bentuk pelana rumah potongan bapang (kebaya) tidak penuh. Kedua sisi luar rumah potongan bapang (kebaya) sebenarnya berbentuk terusan (sorondoy) dari atap pelana tadi yang terletak di bagian tengahnya.Dengan demikian maka yang berstruktur kuda-kuda adalah bagian tengahnya.

c. Potongan Gudang
       Potongan gudang ini berbentuk empat persegi panjang dengan denah segi empat yang  memanjang dari depan ke belakang. Atapnya berbentuk pelana, tetapi ada pula yang berbentuk perisai. Susunan atapnya,tersusun dari kerangka kuda-kuda,jika berbentuk perisai ditambah dengan sebuah eleman struktur atau yang dalam istilah setempat disebut jure. Struktur kuda-kuda dalam potongan gudang bersistem agak kompleks, karena sudah mulai memakai batang tekan miring sebanyak dua buah yang saling bertemu pada sebuah batang tarik tegak yang biasa disebut ander.Pada bagian depan biasanya terdapat sepenggal atap, yang biasa disebut empyak, atau markis, atau topi, berfungsi sebagai penahan tempias hujan atau cahaya matahari, pada ruang depan yang biasanya terbuka. Empyak biasanya ditopang oleh tiang penyangga atau tangan-tangan yang disebut sekor-sekor. Biasanya dari kayu,namun ada pula yang terbuat dari besi. Sistem ini tidak dikenal pada rumah-rumah tradisional lainnya di Indonesia. Tampaknya bisa dipastikan bahwa sistem ini merupakan pengaruh dari bangunan-bangunan yang dibuat oleh Belanda di Jakarta.

(Sumber : http://id.wisatapesisir.com/berita/570-ciri-bangunan-betawi)

No comments: